Saturday, July 10, 2021

Dampak Negatif Body Shaming

Penggunaan sosial media di era modern, memberikan akses yang semakin luas kepada masyarakat terhadap informasi akan gambaran tubuh yang dianggap ideal, baik dari bentuk, warna kulit, tinggi badan, dan sebagainya. Hal ini tentu akan membentuk persepsi tersendiri di masyarakat tentang bagaimana seharusnya tubuh yang ideal dimiliki oleh setiap orang. 

Mudahnya akses terhadap akun sosial media, juga membuat individu semakin mudah untuk memberikan penilaian atau komentar terhadap apa yang ditampilkan orang lain dalam sosial medianya. Beberapa dari mereka bahkan berlindung di balik akun-akun palsu, agar dapat dengan leluasa memberikan komentar negatif atau ejekan terhadap orang lain, termasuk dalam aspek fisik.

Tindakan mengejek dan berkomentar negatif terhadap tampilan fisik seseorang, dikenal dengan istilah body shaming (Fauzia & Rahmiaji, 2019). Pelaku body shaming biasanya mengejek orang-orang dengan penampilan fisik yang dianggap berbeda dengan patokan masyarakat pada umumnya. Obyek body shaming adalah: bentuk, ukuran, tinggi, warna kulit, kondisi kulit (termasuk kulit wajah), jenis rambut, kelainan fisik karena genetik atau insiden, serta semua hal yang dianggap "berbeda" dari standar. 

Perilaku body shaming ini merupakan salah satu jenis perundungan (bullying), yaitu perundungan dalam bentuk verbal. 

Beberapa bentuk penyampaian body shaming, yaitu:

  1. Verbal lisan: berupa gurauan, ejekan, name calling (misalnya: si gendut, bola, gajah, dll), serta komentar negatif yang dilontarkan secara langsung.
  2. Verbal tertulis: dibuat secara tertulis melalui kolom komentar pada sosial media (misal: instagram, facebook, twitter, dll), pesan singkat (seperti whatsapp, line, atau direct message di instagram), dan posting-an sosial media.

Siapa pun dapat menjadi pelaku body shaming, termasuk orang-orang terdekat kita, seperti anggota keluarga, orang tua, teman, pacar, suami, istri, dan guru. Bahkan orang yang tidak kita kenal sekali pun juga dapat menjadi pelaku (umumnya lebih banyak terjadi di sosial media).

Apa yang terjadi pada orang-orang yang kerap mendapatkan body shaming? Mereka umumnya merasakan stress, depresi, kecemasan, merasa inferior, bahkan menghindari kontak sosial dengan orang lain (Sugiati, 2019). Selain itu, body shaming juga dapat menyebabkan gambaran diri (self image) seseorang menjadi negatif (misalnya: merasa bahwa dirinya jelek, tidak terlihat menarik, dsb), merasa insecure, tidak percaya diri, mengalami gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia, termasuk melakukan olahraga secara ekstrim.

Individu yang berada pada tahap perkembangan usia remaja, adalah individu yang paling rentan mengalami dampak negatif dari body shaming. Sebab, remaja berada pada tahap perkembangan psikologis yang potensial, namun rentan karena adanya fase krisis identitas (Hurlock, 1996). 

Pada fase remaja, mereka secara natural memang mengalami perubahan secara fisik terkait pubertas. Perubahan dalam bentuk ukuran dan bentuk tubuh, misalnya ukuran payudara, ukuran panggul, ukuran dada, dan lain sebagainya. Perubahan ini tidak sepenuhnya dapat diterima oleh sebagian remaja. Data menyebutkan bahwa, 46% remaja perempuan dan 26% remaja laki-laki merasa tidak puas dengan perubahan tubuhnya selama pubertas (Hogan & Starsburger, 2008).

Body shaming tidak hanya dapat terjadi pada perempuan, yang umumnya berkaitan dengan bentuk tubuh seperti langsing dan gemuk. Namun, body shaming juga dapat terjadi pada laki-laki, yang lebih menekankan pada bentuk tubuh maskulin, berotot, dan bentuk perut yang six pack (McFarland & Petrie, 2012). 

Lalu, bagaimana cara mengatasi body shaming?

  • Mulailah dari diri sendiri! Berhenti memberikan komentar negatif terkait kondisi tubuh seseorang, meskipun hanya dengan tujuan "bercanda"
  • Memilah akun-akun pada sosial media yang kita ikuti (follow), selain itu kita juga dapat mematikan kolom komentar atau memblokir komentar untuk menyaring hal-hal negatif yang akan masuk ke akun sosial media kita.
  • Ekspresikan apa yang kita rasakan saat menerima body shaming, sampaikan langsung kepada pelaku. Termasuk jika pelaku adalah orang terdekat kita seperti keluarga, pasangan hidup, pacar, teman, dll.
  • Temukanlah hal-hal positif yang ada dalam diri kita. Minta feedback dari orang terdekat terkait kelebihan atau kekuatan yang kita miliki. 
  • Lakukan journaling terkait penilaian pribadi kita terhadap semua hal positif yang kita miliki.


"Tubuh dan penampilan fisik tidak harus sempurna, karena pada dasarnya kita tidak mungkin mencapai kesempuranaan. Lihatlah hal-hal positif lain yang kita miliki, seperti kelebihan, bakat, pencapaian, dan kekuatan diri."

 

Ditulis Oleh:

Jane Cindy, M.Psi, Psikolog.

 

Daftar Refrensi:

Fauzia, T. F., & Rahmiaji, R. L. (2019). Mendalami Pengalaman Body Shaming Pada Remaja Perempuan. Jurnal Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Diponegoro.

Hogan, M. J., & Starsburger, V. C. (2008). Body Image, Eating Disorder, and The Media. American Academy of Pediatrics.

Hurlock, E. B. (1996). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Erlangga: Jakarta.

McFarland, M. B., & Petrie, T. A. (2012). Male Body Satisfaction: Factorial and Construct Validity of Body Part Satisfaction Scale for Men. Journal of Counseling Psychology, 59 (2), 329.

Sugiati, T. (2019). The Influence of Body Shaming Towards FISIP Airlangga University Students Behaviour Pattern. Indonesian Journal of Social Science, Volume 11, No. 02, p. 16-24.


Friday, July 9, 2021

Gejala Baby Blues, Normalkah?

Kehamilan dan melahirkan, seharusnya menjadi sebuah momen yang bahagia dan paling ditunggu-tunggu oleh calon ibu. Menyiapkan kebutuhan dan perlengkapan si kecil, mengadakan gender reveal party, atau acara baby shower kerap dilakukan oleh sebagian ibu yang sedang menunggu waktu kelahiran bayinya. 

Setelah melahirkan, perasaan bahagia umumnya dirasakan oleh mereka yang juga "lahir baru" sebagai seorang ibu. Namun, hal ini tidak dirasakan oleh sebagian ibu lainnya. Mereka justru merasakan kesedihan yang luar biasa, mereka bahkan menangis tanpa sebab yang jelas. Belum lagi perasaan cemas, khawatir, dan tegang yang dirasakan setelah bayi mereka lahir (Suryati, 2008). Hal ini dialami oleh 50% sampai 70% ibu-ibu di Indonesia (Susanti & Sulistiyanti, 2017).

Mungkin sebagian dari kita akan bertanya-tanya, kenapa hal ini bisa terjadi? Bukankah seharusnya mereka bahagia karena telah dikaruniai seorang anak? Apakah mereka bersikap seperti itu hanya untuk "mencari perhatian" dari keluarga dan teman-teman? 

Apa yang dirasakan oleh sebagian dari ibu-ibu yang bayinya telah lahir, disebut dengan sindrom baby blues, yaitu gangguan mood (suasana hati) yang bersifat sementara atau singkat, umumnya terjadi beberapa hari (kurang lebih sepuluh sampai empat belas hari) setelah melahirkan, namun tidak sampai menghambat fungsi keseharian si ibu (Tulak, Yusriani, & Idris, 2019). Jika, gejala tersebut berlanjut setelah 2 minggu pasca melahirkan, maka dapat dikategorikan sebagai postpartum depression. 

Beberapa gejala baby blues adalah: 

  • Kondisi suasana hati atau mood yang tidak stabil
  • Umumnya didominasi oleh emosi negatif, seperti kesedihan, cemas, dan khawatir khususnya terhadap kemampuannya menjalani peran baru sebagai seorang ibu
  • Menangis tanpa sebab, mudah tersinggung
  • Sakit kepala
  • Perubahan pada pola makan dan pola tidur (dapat mengalami peningkatan atau penurunan pada kedua hal tsb)
  • Perasaan tidak berharga, dan cenderung menyalahkan diri sendiri
 
Lalu, hal apa sajakah yang dapat menjadi faktor pemicu sindrom baby blues? Berikut penjelasannya berdasarkan Susanti & Sulistiyanti (2017):
  1. Faktor Internal: penurunan hormon yang drastis pasca melahirkan (seperti hormon estrogen, progesteron, endorphin, tiroid, dsb) sehingga mempengaruhi suasana hati dan kondisi tubuh; pribadi yang rentan terhadap tekanan atau stressor; kemampuan penyesuaian diri yang lambat; kemampuan coping stress yang rendah; kurangnya rasa kepercayaan diri; dan ketidaksiapan mental untuk menjadi seorang ibu.
  2. Faktor Eksternal: kurangnya dukungan sosial dari suami dan keluarga, berupa perhatian, komunikasi, hubungan emosional yang hangat; persalinan premature yang menyebabkan bayi lahir dengan berat badan yang rendah; adanya tuntutan yang berlebihan terhadap ibu, serta kehamilan yang tidak terduga atau tidak diinginkan.

Meskipun sindrom baby blues ini telah terjadi dan dialami langsung oleh anda, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasinya, yaitu: (a) mencari dukungan sosial, sampaikan kekhawatiran dan emosi yang sedang dirasakan kepada suami atau orang-orang terdekat; (b) jangan sungkan untuk menerima bantuan misalnya dengan mempekerjakan baby sitter, asisten rumah tangga, atau menerima bantuan langsung dari orang tua / mertua; (c) sebisa mungkin ikut tidur saat bayi tertidur; (d) ingat bahwa tidak ada pengasuhan yang sempurna, tidak ada ibu yang sempurna; (e) jangan ragu untuk berkonsultasi kepada psikolog.
 
Sedangkan, untuk para suami, kalian juga dapat mengatasi sindrom baby blues yang dialami oleh istri dengan cara: (a) bertanya hal-hal apa saja yang dapat anda lakukan untuk membantu istri; (b) beri bantuan secara langsung tanpa menunda; (c) beri kepercayaan dan afirmasi bahwa istri anda mampu menjalani peran barunya dengan baik (hal ini penting untuk membantu meningkatkan self esteem).

Untuk para suami-istri yang baru menikah, yang istrinya belum mengalami kehamilan, kalian dapat mencegah sindrom baby blues dengan cara-cara berikut:
  • Rencanakan dan persiapkan kehamilan dengan matang
  • Melakukan persiapan finansial
  • Persiapan kesehatan sebelum kehamilan terjadi
  • Tingkatkan pengetahuan pasca melahirkan (dapat dengan cara membaca artikel, berkonsultasi dengan dokter, dsb).
  • Membagi peran antara istri dan suami, diskusikan dengan jelas
  • Rencanakan apakah setelah proses melahirkan, kalian akan membutuhkan bantuan baby sitter atau asisten rumah tangga (berkaitan dengan persiapan finansial juga)

"Menjadi seorang ibu adalah sebuah proses, kalian tidak diwajibkan untuk merasa kuat setiap waktu. Tidak perlu menjadi sempurna, karena pada dasarnya tidak ada ibu yang sempurna. Jangan ragu untuk mencari pertolongan atau berkonsultasi kepada psikolog jika kalian merasa suasana hati berubah-ubah, mengalami kesedihan, dan meragukan kemampuan kalian untuk menjalani peran baru sebagai ibu."

 

Ditulis Oleh:

Jane Cindy Linardi, M.Psi, Psikolog.

 

Daftar Refrensi:

Suryati. (2008). The Baby Blues and Postnatal Deppression. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Edisi Maret 2008 - September 2008, Vol. II.

Susanti, L. W., Sulistiyanti, A. (2017). Analisis Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Baby Blues Syndrome Pada Ibu Nifas. Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan, Vol. 7: No. 2.

Tulak, L. A., Yusriani., Idris, F. P. (2019). Sumber Koping Pada Ibu yang Mengalami Baby Blues Syndrome di RS. Elim Rantepao. Window of Health: Jurnal Kesehatan, Vol. 2: No. 2. 





 



Wednesday, July 7, 2021

Panic Buying di Tengah Pandemi

Fenomena panic buying di Indonesia sudah mulai muncul sejak awal pandemi Covid-19, yaitu sekitar bulan Maret 2020. Pada masa itu, sebagian masyarakat melakukan pembelian masker medis dalam jumlah yang banyak, sehingga ketersediaan masker menjadi langka dan terjadi lonjakan harga yang sangat signifikan. Beberapa bulan setelahnya, terjadi panic buying terhadap multivitamin, khususnya vitamin C.

Kemudian, kasus yang baru-baru ini terjadi adalah panic buying terhadap produk susu dan obat-obatan dengan merek dagang tertentu, yang dipercaya ampuh untuk "mengobati" virus Covid-19. 

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan panic buying? Apakah ada latar belakang psikologis yang membuat fenomena ini terjadi?

Panic buying diartikan sebagai sebuah tindakan membeli dan menimbun berbagai produk yang dirasa penting dalam jumlah yang besar, untuk menghindari ketakutan akan langkanya produk tersebut di masa yang akan datang (Shadiqi, Hariati, & Hasan, 2020). 

Bahkan, menurut sejumlah penelitian, panic buying juga sudah terjadi bahkan sebelum pandemi Covid-19, yaitu di masa flu Spanyol pada tahun 1918. Sehingga, perilaku panic buying disimpulkan sebagai sebuah respon individu terhadap stress di tengah-tengah kejadian yang luar biasa (Eva, Saputra, Wulandari, et al., 2020). 

Karakteristik perilaku panic buying adalah: tidak terkendali, terjadi secara tiba-tiba, dilakukan oleh lebih dari satu individu, dan didasarkan pada perasaan takut dan cemas (Arafat et al., 2020). Beberapa studi pun menyatakan bahwa panic buying didasarkan pada kondisi emosi seseorang (Aquino, Natividade, & Lins, 2020). 

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku panic buying (Yuen, Wang, Ma, & Li, 2020). Berikut penjabarannya:

  1. Persepsi: yaitu tindakan individu untuk menafsirkan event atau kejadian luar biasa seperti pandemi. Dalam tahap awal, akan muncul persepsi terhadap adanya "ancaman" yang dirasakan, kemudian tahap berikutnya adalah persepsi bahwa akan terjadi kelangkaan terhadap produk-produk yang dirasa penting bagi individu tersebut. Misalnya: masker medis, vitamin, susu, obat-obatan, dan lain sebagainya.
  2.  Ketakutan terhadap ketidakpastian: secara umum, individu akan merasakan emosi negatif berupa kecemasan dan ketakutan selama pandemi Covid-19. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan seseorang untuk memprediksi hasil dari pandemi yang berkepanjangan. Sehingga, "ketidakpastian" adalah hal yang dirasakan oleh hampir semua individu. Perilaku panic buying dilakukan sebagai sebuah kompensasi agar individu tersebut dapat merasa aman (secure) dan nyaman. 
  3. Coping behaviour: melakukan perilaku panic buying merupakan sarana untuk "memegang kendali" terhadap situasi pandemi. Kecenderungan manusia untuk memegang kendali dirasa sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup (survive). 
  4. Pengaruh sosial: individu adalah bagian dari masyarakat, sehingga segala keputusan, perilaku, dan kepercayaan dapat dipengaruhi oleh mayoritas masyarakat lainnya. Oleh karena itu, individu dapat mengubah atau menyesuaikan perilakunya agar memenuhi tuntutan dari lingkungan sosialnya. Selain itu, kepercayaan individu terhadap komunitas juga turut memainkan peranan yang penting. Apakah komunitas tempat tinggalnya dinilai sebagai kelompok yang suka berbagi, saling menolong, saling memperhatikan, dsb. 

Sedangkan, menurut Kaur & Malik (2020), faktor yang mempengaruhi panic buying adalah sebagai berikut:

  1. Potensi terhambatnya supply: Konsumen mengevaluasi sendiri resiko terhambatnya supply terhadap produk yang dirasa penting baginya. Sehingga, mereka memutuskan untuk membeli produk tersebut dalam jumlah yang banyak.
  2. Pengaruh kondisi emosi antar individu: Hal ini terjadi saat kondisi emosi seseorang, turut mempengaruhi emosi orang lain, dan seterusnya, sehingga menimbulkan efek snowball. Akibatnya, perilaku panic buying tidak dapat terhindarkan.
  3. Perasaan tidak mampu mengelola stress: Kondisi ini merupakan salah satu faktor terbesar yang membuat beberapa individu melakukan perilaku panic buying. Perilaku membeli dan menimbun produk dalam jumlah yang banyak merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh mereka untuk melepaskan stress yang dirasakan. 
  4. Kondisi demografis: Karakteristik demografis seperti usia, gender, dan latar belakang pendidikan memiliki pengaruh yang besar terhadap munculnya perilaku panic buying.

 

Namun, di tengah-tengah fenomena ini, ada sebagian masyarakat yang tidak menunjukkan perilaku panic buying di masa pandemi Covid, mengapa hal tersebut dapat terjadi? 

Ternyata, individu yang memusatkan fokus perhatiannya pada apa yang terjadi di "masa sekarang" atau present moment, serta individu yang optimis dan memiliki ekspektasi yang positif terhadap "masa depan", memiliki kecenderungan yang jauh lebih rendah untuk menampilkan perilaku panic buying

 

Pentingnya menjaga fokus kita terhadap apa yang terjadi saat ini, kemampuan untuk berpikir positif, optimis, mengelola emosi, serta berempati terhadap orang-orang yang lebih membutuhkan, merupakan kunci agar perilaku panic buying tidak semakin meningkat di masyarakat.

 

Ditulis oleh:

Jane Cindy Linardi, M.Psi, Psikolog.

 

Daftar Refrensi:

Arafat, S. M. Y., et al. (2020). Psychological Underpinning of Panic Buying During Pandemic Covid-19. Psychiatry Research, issue 289. 

Aquino, S, D., et al. (2020). Validity Evidences of The Buying Impulsiveness Scale in Brazilian Context. Psico-USF, vol. 25, issue 1, pp. 15-25.

Eva, N., et al. (2020). Panic Buying Behavior During The Covid-19 Outbreak: A Cross Cultural Psychological Study. International Confrence of Psychology. KnE Social Sciences, pages 80-87.

Kaur, A., Malik, G. (2020). Understanding The Psychology Behind Panic Buying: A Grounded Theory Approach. Journal of Sage. 

Shadiqi, M. A., et al. (2020). Panic Buying Pada Pandemi Covid-19: Telaah Literatur Dari Perspektif Psikologi. Jurnal Psikologi Sosial, issue 18.

Yuen, K. F., et al. (2020). The Psychological Causes of Panic Buying Following a Health Crisis. International Journal of  Environmental Research and Public Health, volume 17(10).

 



 




Tuesday, July 6, 2021

Komponen Penting Dalam Cinta

Cinta sering diartikan terlalu dini oleh sebagian orang, sehingga mereka terlalu cepat dalam mengambil keputusan untuk menjalin hubungan yang serius, bahkan keputusan untuk terikat dalam sebuah pernikahan.

Hanya karena ketertarikan akan penampilan fisik dengan wajah yang tampan / cantik, maka sudah dideskripsikan sebagai sebuah cinta yang utuh dan dijadikan sebagai alasan yang kuat untuk segera menjalin hubungan. Hanya karena melihat kebaikan sifatnya, maka merasa sudah sepenuhnya jatuh cinta dan siap berkomitmen. Padahal, cinta dan hubungan sifatnya tidak sedangkal itu. 

Cinta adalah perasaan yang kompleks, serta merupakan sebuah kombinasi antara emosi, kognisi, dan perilaku yang berperan sangat penting dalam sebuah hubungan (Kochhar & Sharma, 2015). 

Terdapat beberapa elemen penting dalam cinta dan hubungan. Seperti yang dinyatakan oleh Stenberg (1986) dalam teori triangular model of love, bahwa cinta memiliki tiga elemen penting. Ketiga elemen tersebut adalah:

Intimacy: Kedekatan dan keterikatan dengan pasangan. Adanya perasaan saling memberikan dan menerima dukungan emosional, saling menjalin komunikasi yang intens, serta saling memahami antar pasangan.

Passion: Mengarah pada percintaan, adanya ketertarikan fisik dan ketertarikan seksual. Serta, muncul keinginan kuat untuk menghabiskan waktu dengan pasangan.

Commitment: Keputusan untuk mencintai seseorang dan mempertahankan cinta dalam jangka waktu yang panjang. Dalam menjalin hubungan romantis, akan ada fase naik turun, sehingga komitmen sangat diperlukan untuk mempertahankan sebuah hubungan. 

Cinta yang sempurna atau consummate love adalah cinta yang stabil dan ditandai dengan adanya ketiga elemen tersebut, intimacy, passion, dan commitment.

Silahkan merefleksikan diri masing-masing, apakah hubungan yang sedang kalian jalani dengan pasangan sudah termasuk cinta yang sempurna? Apakah ketiga elemen tersebut sudah lengkap?

Bagaimana jika hubungan kalian hanya terdapat 2 elemen cinta saja? Atau bahkan hanya terdapat 1 elemen saja? Termasuk ke dalam tipe cinta yang manakah hubungan yang sedang dijalani?

Marilah kita telaah satu per satu berdasarkan teori Stenberg (1986):

  • Hubungan yang hanya terdapat satu elemen saja:
    • Adanya elemen intimacy. Namun, dalam hubungan ini tidak terdapat elemen passion dan commitment. Maka, hubungan ini disebut dengan liking atau saling menyukai. Misalnya: hubungan pertemanan
    • Adanya elemen passion (gairah). Namun, dalam hubungan ini tidak terdapat elemen intimacy dan commitment. Maka, hubungan ini hanyalah sebatas hubungan yang menggebu-gebu, yang mungkin tujuan utamanya hanyalah berhubungan seksual, tanpa ikatan apa pun. Misalnya: one night stand. Hubungan ini biasa disebut dengan infatuated love
    • Adanya elemen commitment. Namun, dalam hubungan tersebut tidak terdapat elemen intimacy dan passion. Misalnya: hubungan pernikahan yang dijodohkan, atau hubungan yang sifatnya stagnan. Hubungan ini disebut dengan empty love 
 
  • Hubungan yang hanya terdapat dua elemen saja:
    • Adanya elemen intimacy dan passion. Namun, dalam hubungan ini tidak terdaapt elemen commitment.  Misalnya: hubungan tanpa status (HTS). Hubungan ini disebut dengan istilah romantic love
    • Adanya elemen intimacy dan commitment. Namun tidak adanya passion atau gairah dalam hubungan tersebut. Hubungan ini disebut dengan companionate love, misalnya: hubungan persahabatan yang sudah dijalin sejak lama.
    • Adanya elemen passion dan commitment. Namun, elemen intimacy tidak ada. Hubungan ini disebut dengan fatuous love. Komitmen dibangun berdasarkan gairah semata, tanpa adanya kedekatan. Misalnya: pasangan yang baru saja berkenalan, bertunangan pada beberapa bulan setelahnya, dan segera melangsungkan pernikahan.
 
Sudahkah kalian menemukan, tipa hubungan mana yang sedang kalian jalani? Ingat, jangan terburu-buru untuk mengambil keputusan menikah. Refleksikan terlebih dahulu hubungannya. Apakah hubungan ini membuat saya nyaman? Apakah hubungan ini membuat saya bahagia? Apakah saya dapat menjadi diri saya sendiri seutuhnya dalam hubungan yang sedang saya jalani? Apakah pasangan saya memberikan saya kebebasan untuk menjalani karir yang saya sangat sukai? Apakah saya semakin bertumbuh ke arah yang positif dalam hubungan ini?
 
Cinta dan hubungan adalah suatu hal yang kompleks. Dibutuhkan kedewasaan dan sikap untuk mau merefleksikan hubungan yang sedang dijalani. Diperlukan perencanaan yang matang untuk mengambil keputusan besar yaitu melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Take your time!

 

Ditulis oleh:

Jane Cindy Linardi, M.Psi, Psikolog.

 

Daftar Refrensi:

Kochhar, R., Sharma, D. (2015). Role of Love in Relationship Satisfaction. The Internal Journal of Indian Psychology 3 (1) : 81-107.

Stenberg, R.J. (1986). A Triangular Theory of Love. Psychological Review, 92 (3), 119.


Monday, July 5, 2021

Mengelola Pola Pikir Sehat di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 sudah menyerang selama hampir satu setengah tahun di Indonesia. Berbagai tekanan sudah dirasakan, baik tekanan dari bidang ekonomi seperti kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, sampai tekanan dari bidang kesehatan seperti tertular virus Covid-19, kelelahan tenaga kesehatan, keterbatasan rumah sakit, langkanya tabung oksigen, dan lain sebagainya. 

Masyarakat masih mengalami ketidakpastian dalam berbagai hal. Kapan pandemi Covid akan berakhir? Apakah saya juga akan tertular virus Covid?  Apakah orang-orang yang serumah dengan saya akan tetap sehat jika saya masih memiliki mobilitas yang tinggi untuk bekerja? Apakah bisnis dan pekerjaan saya akan tetap berjalan dengan baik? Berbagai ketidakpastian tersebut tentu akan membawa dampak psikologis tersendiri.

Seperti yang dinyatakan oleh Brooks (2020) bahwa pandemi Covid-19 membawa beberapa dampak psikologis yang dirasakan oleh masyarakat seperti: frustasi, ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, kegelisahan, serta merasa diri tidak berdaya. 

Namun, dampak-dampak psikologis yang mungkin terjadi itu adalah suatu reaksi yang normal, dan setiap orang dapat mengalaminya. Kabar baiknya, hal tersebut bahkan bisa ditangani dengan cara mengelola pola pikir yang sehat (healthy mindset). 

Mengapa mengelola pola pikir yang sehat itu menjadi penting? Sebab, pikiran kita mempengaruhi aspek perasaan dan perilaku (Edelman, 2013). Contohnya:

  • Pikiran: "Hari ini, saya pasti akan bersinggungan dengan virus Covid-19 dari orang-orang yang ada di kantor."
  • Perasaan: Saya merasa takut dan cemas selama bekerja di kantor
  • Perilaku: Pekerjaan saya jadi terhambat, karena saya sibuk mencuci tangan dan berkali-kali berpindah tempat untuk mencari tempat yang sepi. 

Berawal dari pola pikir yang keliru dan negatif, akan sangat berdampak ke hasil akhir (outcome) yang muncul. 

 Hasil akhirnya akan menjadi berbeda, ketika dari awal kita memiliki pola pikir yang sehat. Contoh:

  • Pikiran: "Hari ini, saya akan menikmati waktu bekerja dan akan memberikan yang terbaik, sambil tetap menjaga protokol kesehatan."
  • Perasaan: Saya merasa tenang dan senang selama bekerja di kantor
  • Perilaku: Pekerjaan saya lancar, dan dapat selesai tepat waktu

Bagaimana caranya, agar kita tetap dapat menjaga pola pikir yang sehat? Fokuslah dengan hal-hal apa saja yang bisa kita kontrol atau kendalikan. Kontrol dapat dilihat sebagai sebuah proses untuk mencapai target (goal), saat di hadapkan oleh gangguan atau hambatan (Mansell & Marken, 2015). 

Dalam konteks pandemi Covid-19, hal-hal apa saya yang dapat kita kontrol / kendalikan?

  • Mengikuti vaksinasi Covid-19
  • Menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas
  • Meningkatkan konsumsi sayur dan buah-buahan
  • Mengkonsumsi multivitamin (misal: vitamin C, vitamin D, dan Zinc)
  • Melakukan olahraga secara teratur
  • Rutin berjemur di pagi hari
  • Melatih pola pikir positif

Hal-hal di atas sepenuhnya ada dalam genggaman dan kontrol kita. Sedangkan, banyak juga hal lainnya yang berada di luar kendali kita. Seperti:

  • Kapan pandemi akan berakhir
  • Virus Covid itu sendiri
  • Bertemu atau melakukan kontak dengan orang yang positif Covid
  • Kondisi kesehatan keluarga
  • Perekonomian negara
  • Pola pikir (mindset) orang lain

Semakin kita fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan, maka akan mengurangi rasa cemas, khawatir, dan takut yang kita rasakan di masa pandemi ini. Demikian pula sebaliknya, saat kita terlalu fokus dengan hal yang tidak dapat kita kendalikan, maka akan semakin tinggi tingkat stress dan kecemasan yang kita rasakan.

Selain itu, teknik mindfulness juga dapat menjadi alternatif lain untuk melatih pola pikir yang sehat. Mindfulness adalah sebuah bentuk kesadaran yang memfokuskan pada hal-hal yang terjadi di masa sekarang (saat ini) dengan perhatian penuh, bukan berfokus pada masa lalu atau masa yang akan datang (Bishop et al., 2004). 

Dengan memfokuskan diri pada hal-hal yang terjadi saat ini (present moment) serta terhadap hal-hal yang dapat kita kendalikan sepenuhnya, maka kesehatan mental termasuk pola pikir kita akan menjadi  sehat dan positif. Hal ini tentu akan membuat kita lebih tenang dalam menjalani keseharian di masa pandemi Covid-19. 

 

Pandemi adalah masa yang sulit bagi kita semua, berbagai tekanan dirasakan dalam keseharian. Namun, kemudi sepenuhnya ada di tangan kita. Fokuslah dengan hal-hal yang dapat dikontrol, serta arahkan kesadaran kita sepenuhnya terhadap hal yang terjadi di saat ini.

 

Ditulis oleh: 

Jane Cindy Linardi, M.Psi, Psikolog.

 

Daftar Referensi:

Bishop, S.R., Lau, M., Shapiro, S., Carlson, R., Anderson, N.D., et al. (2004). Mindfulness: A proposed operational definition. Clinical Psychology: Science & Practice, 11(3): 230-241.

Brooks, K.S. (2020). The Psychological Impact of Quarantine and How to Reduce It: Rapid Review of the Evidence. Lancet, 395, pp. 912-920. 

Edelman, S. (2013). Change Your Thinking. ABC Books, 3rd Edition.

Mansell, W., Marken, R,S. (2015). The Origins and Future of Control Theory in Psychology. Review of General Psychology, 19(4): 425-430.

 


 

Friday, July 2, 2021

Keterampilan Sosial Pada Anak

Interaksi sosial adalah salah satu keterampilan atau life skill yang dinilai penting agar seseorang dapat hidup di tengah-tengah masyarakat. Sebagai mahluk sosial, tentu keterampilan ini pun menjadi sebuah aspek krusial yang perlu dimiliki oleh setiap individu, termasuk anak-anak. 

Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua orang atau lebih, yang dilakukan untuk menciptakan atau mempertahankan suatu relasi (Andarbeni, 2013). Hal ini diperoleh melalui proses belajar observasi, modelling, dan feedback respons (Mushfi, 2017). 

Sedangkan, dasar keterampilan sosial meliputi perilaku atau tindakan yang dilakukan, dan komunikasi dengan orang lain yang dapat bersifat verbal maupun non verbal (Hargie & Saunders, 1994). 

Sama seperti aspek perkembangan lainnya pada seorang anak, aspek keterampilan sosial juga memiliki tahapan atau milestone, yang sangat bergantung terhadap usia perkembangan.  Berikut ini adalah penjabarannya (Petty, 2015):

  • Usia 2 bulan: menangis saat mendengar tangisan bayi lain, melakukan kontak mata dengan caregiver dan tersenyum
  • Usia 4 bulan: membalas tersenyum sebagai respon terhadap senyuman yang diberikan oleh caregiver, mulai menggerak-gerakan mainannya
  • Usia 6 bulan: mulai mengenali wajah orang yang familiar dan wajah orang asing, dapat memberikan respon emosi yang ditampilkan orang lain dengan cara tertawa, tersenyum, dan menangis
  • Usia 9 bulan: dapat menangis jika wajah caregiver yang familiar tidak hadir dekat dengannya, beberapa bayi mulai menampilkan respon yang risih saat digendong oleh orang yang asing baginya
  • Usia 1 tahun: memainkan mainan favoritnya dengan caregiver, lebih interaktif (menyodorkan mainan, membuat suara yang spesifik untuk menarik perhatian caregiver), serta menikmati permainan cilukba (peek-a-boo)
  • Usia 1,5 tahun sampai 2 tahun: mulai mengimitasi apa yang dilakukan orang dewasa atau anak lainnya, mulai tertarik akan kehadiran anak lain, namun lebih kepada paralel play (yaitu bermain berdampingan atau bersebelahan) dan aktivitas bermainnya belum melibatkan interaksi dua arah
  • Usia 3 sampai 4 tahun: mulai tertarik dengan pretend play, namun belum sepenuhnya dapat membedakan antara "kenyataan" dan "pura-pura", lebih berbaur dengan teman sebaya dan dengan caregiver
  • Usia 5 sampai 6 tahun: menikmati waktu bersama dengan anak lainnya melalui aktivitas bermain yang lebih interaktif dan komunikatif, serta mulai mengingat nama-nama temannya di sekolah
  • Usia 7 sampai 8 tahun: mulai lebih sering berhadapan dengan konflik, dan mengeluhkan mengenai reaksi/respon yang ditampilkan anak lain, selain itu anak mulai berusaha untuk mengekspresikan emosinya melalui perkataan verbal
  • Usia 9 sampai 10 tahun: pada tahapan ini, anak akan mulai lebih sering menghabiskan waktunya bersama teman-temannya, mereka umumnya sudah memahami konsep gurauan dan sharing rahasia

 Selain tahapan perkembangan di atas, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keterampilan sosial seorang anak (Cartledge & Milburn, 1995), yaitu:

  • Keterampilan kognitif dan perilaku: anak yang memiliki gangguan pada perkembangan kognitif dan perilaku, akan lebih mengalami kesulitan untuk berinteraksi sosial
  • Usia: kedalaman interaksi sosial yang dilakukan oleh anak, tergantung dari usia perkembangannya, sebab keterampilan sosial adalah suatu hal yang bertahap
  • Lingkungan sosial: lingkungan seorang anak berperan penting, misalnya lingkungan rumah, lingkungan sekolah, dsb. Apakah lingkungan tersebut memberikan anak kesempatan dan stimulasi untuk melatih keterampilan sosialnya

Setelah anak memiliki dan menguasai keterampilan sosial dengan baik, maka mereka akan mendapatkan beberapa manfaatnya, yaitu:

  • Pemenuhan terhadap kebutuhan utama sebagai mahluk sosial yaitu berinteraksi dengan orang lain
  • Kebutuhan akan cinta dan penerimaan dari lingkungan sosial terpenuhi
  • Terjalinnya kelekatan emosi dengan keluarga dan teman
  • Mendapatkan dukungan sosial (social support) saat anak membutuhkan
  • Kemampuan menyelesaikan masalah menjadi terasah
  • Tumbuhnya rasa empati, sikap mau menolong, dan bekerja sama
  • Mengenali dirinya sendiri secara lebih baik
  • Terbentuknya self esteem, yaitu evaluasi positif terhadap dirinya sendiri, yang berasal dari perasaan positif terhadap kemampuannya untuk bersosialisasi
  • Anak memiliki salah satu aspek kesiapan untuk memasuki dunia sekolah

 

"Keterampilan sosial adalah suatu skill yang berkembang secara bertahap, sesuai dengan usia perkembangan anak. Namun, orang tua tetap perlu memberikan kesempatan dan stimulasi kepada anak, agar ia dapat mengembangkan keterampilannya tersebut."

 

Ditulis oleh:

Jane Cindy Linardi, M.Psi, Psikolog. 


 

Thursday, July 1, 2021

Bagaimana Cara Mengajarkan Tanggung Jawab Pada Anak?

Salah satu sikap yang perlu dimiliki oleh setiap individu adalah tanggung jawab. Hal ini diperlukan agar ia dapat menjalani fungsi kesehariannya dengan optimal. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua tentu merasa perlu menanamkan nilai tersebut kepada anak-anak kita sejak dini. Nah, sebenarnya apa yang dimaksud dengan tanggung jawab itu sendiri? 

Tanggung jawab adalah suatu sikap atau pun perilaku seseorang untuk melakukan tugas dan kewajiban terhadap dirinya sendiri, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya (Hasan, 2010). 

 Lalu, pertanyaannya adalah bagaimana cara saya mengajarkan tanggung jawab kepada anak? Mengingat tanggung jawaba dalah sebuah konsep yang abstrak untuk dijabarkan atau didefinisikan kepada anak-anak. Sedangkan, perkembangan kognitif anak-anak pun belum dapat mencerna sebuah konsep yang sifatnya abstrak, khususnya anak-anak yang berusia di bawah 11 tahun (Suparno, 2001). 

Contoh kongkrit adalah salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengajarkan tanggung jawab pada anak. Sebab, anak pertama kali belajar melalui metode "observasi" atau yang lebih dikenal dengan istilah observational learning (Bandura, 1977). Dengan observasi, anak akan belajar untuk mencontoh (modelling & imitating) perilaku-perilaku yang ia lihat dari figur orang tuanya. 

 Pemberian contoh kongrit dapat dilakukan dengan cara: setiap anak selesai bermain, maka orang tua mengajak anak untuk bersama-sama mengambil mainan-mainan tersebut, dan memasukannya ke dalam box penyimpanan. Lakukan hal ini secara berulang dan konsisten setiap kali anak selesai bermain. Tentu keterlibatan orang tua menjadi hal yang penting disini, sebab hal itulah yang menjadi sumber "contoh kongkrit" yang dilihat anak secara langsung. 

 Selanjutnya, metode mendongeng (story telling) juga dapat menjadi salah satu cara bagi orang tua untuk menanamkan nilai tanggung jawab kepada anak (Juwita, Munajat, & Elnawati, 2019). Berbagai pendekatan mendongeng dapat dilakukan, mulai dari membacakan buku cerita, panggung boneka, atau mendongeng dengan menggunakan alat peraga. 

Mendongeng dinilai sebagai salah satu cara atau media yang efektif  untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak (Sulistyorini, 2009). Melalui cerita dongeng yang didengar oleh anak, maka mereka dapat mengambil pesan moral yang terdapat dalam inti cerita. 

 Orang tua dapat mendongeng pada waktu-waktu tertentu, misalnya mendongeng sebelum tidur. Hal ini juga dapat dilakukan sekaligus untuk membangun bonding dengan anak. Pilihlah waktu-waktu secara fleksibel, yang penting dilakukan secara rutin dan konsisten.

 Bermain peran atau role play juga dapat menjadi alternatif cara yang dilakukan oleh orang tua untuk menanamkan nilai tanggung jawab pada anak. Bermain peran adalah salah satu metode pembelajaran interaksi sosial yang memberikan kesempatan kepada anak untuk terlibat secara aktif (Halifah, 2020). 

Dalam bermain peran, orang tua perlu memberikan sebuah gambaran skenario, setting tempat, dan juga peran yang akan dimainkan oleh anak dan orang tua. Setelah permainan selesai, orang tua dapat melakukan diskusi dengan anak terkait pesan moral atau nilai-nilai yang ditanamkan. Dengan bermain peran, anak dapat melatih empati dan melihat suatu hal dari perspektif orang lain (Sujana, 1998).

 Setelah itu, orang tua tentu perlu memberikan kesempatan bagi anak untuk melakukan praktik langsung. Berikan anak tugas-tugas sederhana, yang tentu perlu disesuaikan dengan usia perkembangan anak (Solihin, Prabowo, Zakaria, & Hayati, 2016). Misalnya:

  • Merapihkan mainan dan barang-barang yang telah digunakan pada tempatnya
  • Membuang sampah di tempat sampah
  • Merapihkan kamar tidur
  • Menyiapkan keperluan sekolah dan mengerjakan tugas (pekerjaan rumah / PR) 

Orang tua juga perlu memberikan apresiasi atas usaha yang dilakukan oleh anak. Jangan terfokus pada hasil akhirnya. Apresiasi dapat dilakukan dengan memberikan pujian, misalnya: "Mama bangga atas usahamu untuk merapihkan mainan-mainan ke dalam box penyimpanan." atau "Wah, sekarang kamu sudah berusaha menyiapkan keperluan sekolahmu sendiri, hebat nak!"

 "Pembelajaran adalah proses panjang yang perlu dilalui oleh seorang anak. Orang tua tidak perlu menyalahkan dirinya sendiri jika anak masih berproses mempelajari nilai tanggung jawab. Hal yang penting adalah bagaimana orang tua secara konsisten menanamkan nilai tersebut dan memberikan anak kesempatan untuk melakukan praktik secara langsung."

 

Ditulis oleh:

Jane Cindy Linardi, M.Psi, Psikolog.


Regulasi Emosi Pada Anak

 Regulasi emosi adalah suatu rangkaian proses intrinsik dan ekstrinsik pada diri seseorang yang bertujuan untuk memonitor, mengevaluasi, dan...